Minggu, 24 Juni 2012

Misi Ketos Rama



Byungmeon High School adalah sekolah yang cukup tertinggal. Bahkan kau bisa menyebutnya “Sekolah Kumuh”. Bukan karena fasilitasnya yang kurang, melainkan prestasinya yang sangat langka. Seumur sekolah itu berdiri, baru satu kali Byungmeon mendapatkan medali, yakni perunggu dalam ajang Chemist Champion. Itu adalah satu-satunya prestasi yang mereka banggakan. Bahkan prestasi itu diraih ketika sekolah berumur 19 tahun sejak pendirian. Sedangkan sekarang sekolah itu sudah berumur 33 tahun. Bayangkan!



   Hari ini ada pemilihan Ketua OSIS di Byungmeon High School. Ketiga calon itu ialah Brolut, Rama, dan Kaito. Dimulai dengan promosi diri atau kampanye, hingga ke acara inti, pemungutan suara. Akhirnya terpilihlah Rama sebagai ketua OSIS tahun 2011-2012. Ia mempunyai visi mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Misi pertamanya ialah memberikan banyak kemajuan kepada sekolah di bidang apapun yang penting halal. Kedua menertibkan siswa yang tidak tertib. Visi dan Misi yang cukup polos, namun itulah yang ia janjikan kepada sekolah.                Keesokan harinya ketika Rama berjalan pulang dari sekolah, ia bertemu dengan siswa dari Kirin High School. Jik namanya. Rama menyapanya dan rupanya mereka adalah saling mengenal. “Jik, aku ketos sekarang. Bagaimana menurutmu?”. Jik ternganga dan menahan ketawa, tapi agak penasaran. “Bagaimana bisa kau terpilih?” sembari tertawa. “Aku memiliki visi dan misi yang keren! Dan nantinya akan terwujud. Aku akan menambah presasi sekolahku, menertibkan semua siswa, dan mendamaikan sekolah. Otomatis sekolah kita akan sederajat levelnya, bukan?”, jawab Rama. “Eh? Kamu! Itu adalah visi dan misiku di minggu kemarin ketika pemilihan OSIS di sekolahku. Kau meng-copynya ya?”, Jik kaget. “Ya! Mana ku tahu. Makannya itu aku akan memerlihatkan kepadamu bahwa sekolahku tidak akan menjadi kumuh selamanya seperti yang mereka, orang-orang sombong katakan! Bahkan aku bisa mengalahkan Kirin High School”. Jik tersenyum simpul, “Kalau visi dan misi saja harus meng-copy, mana bisa kamu mengalahkan orang-orang hebat seerti kita. Mau meng-copy prestasi? Hahaha.. kau lucu sekali. Baiklah kita lihat saja apa yang terjadi nanti dengan orang pengecut sepertimu!”. Jik pergi meninggalkan Rama dengan memalingkan wajah yang meremehkan.                Sebelum sampai depan gerbang rumahnya, ia melihat selembar kertas di bawah kakinya. Ketika ia akan mengambilnya, tiba-tiba ada tangan yang langsung meraih kertas itu. “Apa itu?”, Tanya Rama. “Ini kertas formulir pendaftaran UKC tahun ini”. “UKC?”, Tanya Rama lagi, “Dapatkah kau menjelaskan padaku apa itu?”, Rama menjadi lebih penasaran. “Universal Knowledge Champion, lombanya tanggal 14 Juni nanti. Seluruh SMA-sederajat boleh mengikuti. Asalkan kamu berpengetahuan luas dan wawasan tinggi. Serta berani menjawab tantangan. Baiklah aku buru-buru, pendaftaran terakhirnya hari Kamis depan. Semoga berhasil!”.                Setelah mengetahui tentang Lomba itu, Rama bergegas mencari infonya di internet. Untungnya ia tidak gaptek. Rama berniat untuk menyebarkan kabar ini ke sekolah, agar mereka tertarik dan mengikuti lombanya. Bertujuan untuk menambah prestasi sekolah, sesuai misinya. Ia juga ingin membuktikan kepada Jik, bahwa sekolahnya tidak sekumuh dan bukan pengecut seperti yang ia katakan. Rama memprint iklan lombanya sesuai jumlah siswa di sekolahnya. Ia sudah tidak sabar lagi untuk melihat antusias teman-teman, dan adik-adik kelas nantinya.                6 Juni, pagi ini Rama ke sekolah dengan membawa kertas-kertas iklan lomba itu. Segera di apel pagi ia mengumumkan tentang UKC kepada seluruh siswa sekolah. Suasana hening saat Rama mengatakan “Lomba ini tanggal 14 Juni, jadi kita punya kesempatan belajar dan berlatih, bukan?”. Seketika sontak tawa yang sangat besar terdengar di telinga Rama. Rama hanya seperti makhluk tak berguna di atas panggung apel. Guru-guru pun semuanya tertawa, menggelengkan kepala, dan bahkan ada yang sampai terpingkal karena tertawa. “Apa ada yang tertarik?”, Tanya Rama kembali. “TIDAK! TIDAK” kompaknya siswa-siswa menjawabnya.                Betapa sakit hati yang Rama rasakan. Saat jam pertama dimulai, ia hanya termenung melihat buku cetak Biologinya di atas meja. Ia memikirkan cara apa agar seluruh siswa berlomba-lomba mendaftarkan dirinya. Memang itu hak mereka, namun apakah mereka tidak sadar diri bahwa Byungmeon adalah benar-benar sekolah Kumuh? Pengecut! Dan kalah! “Aku tak akan menyerah. Aku yakin Byungmeon akan memenangkan lomba ini”, ujarnya dalam hati.                Enam hari lagi pendaftaran akan ditutup. Itu bukan waktu yang lama bagi sekolah yang seperti Byungmeon. Dengan banyaknya kontra yang ada, enam hari itu hanya akan dimakan oleh tawaan, cercaan, dan hinaan. Namun, Rama tidak mau menyerah. Ia sudah menerima tantangan Jik. Rama berjanji akan mengalahkan Jik di ajang itu. Ia mau mewujudkan Misinya itu dimulai dari sini.                Sore hari, Rama pergi ke toko buku. Ia mencari buku pengetahuan Umum di sana. Rupanya ia akan membelinya dan mengedarkan kepada teman-temannya bahwa pengetahuan umum itu asyik, apalagi kalau dilombakan. Ia menggunakan uangnya sendiri untuk membeli. Bahkan, ia belum bercerita pada ibunya tentang ini, ia belum mengatakan bahwa ia adalah Ketos di Byungmeon sekarang. Itu semua karena Rama ingin membuktikan dulu kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa mengubah kata “kumuh” itu, baru bisa ia mengatakan semuanya kepada ibu tercintanya. Bukankah itu mulia?                Rama teringat akan Yuniar’s theory “You cannot change the World, but you can change that Words”, kamu tidak dapat mengubah dunia, tapi kau dapat mengubah kata-kata itu. Itu artinya kita dapat mengubah dunia, dengan mengubah suatu kalimat kejatuhannya terlebih dahulu. Itu teori yang sangat dikagumi oleh ibundanya. Ketika kita bisa mengubah dan membuktikan sedikit demi sedikit, nantinya akan terbukti banyak bahwa itu nyata, itu terjadi. Rama percaya itu, dengan kehendak sang Maha Kuasa Allah swt. segalanya akan bisa berubah. Termasuk Byungmeon High School.                Lima hari sebelum penutupan pendaftaran UKC, sekali lagi Rama mengumumkannya di apel pagi. Kali ini dengan membawa buku-buku Ilmu Pengetahuan Umum yang kemarin ia beli. “Inilah hal yang sangat menarik dari ajang ini. Wawasan kita jadi luas kawan! Coba dengarkan ini, bahasa dunia memang bahasa Inggris, tapi tahukah anda bahwa Mandarin adalah bahasa yang lebih banyak digunakan masyarakat dunia? Percaya atau tidak!”. “Waaaaaaaa!” sorak seisi gedung. “Bagus bukan? Ilmu baru yang kita dapatkan, selain itu banyak lagi pengetahuan-pengutahuan asli tentang dunia ini, kita adalah orang cerdas walaupun kau belum percaya. Kita bisa ikut ajang ini, untuk membuktikan bahwa kita memang cerdas. Ayolah teman! Ada yang tertarik?” lagi-lagi Rama memastikan.                Tiba-tiba sreeeeeeeet, sebuah raket tennis melayang ke arah Rama. Beruntung raket itu tidak mengenai wajahnya. “Siapa pelakunya?” Rama berteriak. Seisi gedung melihat ke arah Brolut. “Menurutmu cerdas itu apa?” dengan tatapan meremehkan, Brolut bertanya “Apa kau mengatakan inti bahwa kita, Byungmeon adalah orang bodoh? Orang tidak cerdas? Begitukah?”. Rama kaget ternyata Brolut yang melakukannya. Kemudian Rama menjawab, “Oh, jadi kamu yang melakukannya. Aku akui gayamu barusan itu sungguh keren! Aku suka. Baiklah aku tidak mau basa-basi lagi. Aku ketos hari ini, kemarin, dan sampai tahun depan. Aku berbicara di sini bukan untuk menggurui kalian. Hanya untuk memberitahu kalian, bahwa kita semua adalah orang cerdas. Tapi apakah kecerdasan itu hanya terbukuti dari ucapan semata? Bukankan orang-orang belum akan percaya dengan apa ucapan orang-orang seperti kita? Siswa yang tidak tau potensinya. Siswa yang meragukan keberhasilannya. Siswa yang takut bertanding dan takut kalah. Siswa yang meremehkan ajang bergengsi. Siswa yang tidak tahu dan tidak mau tahu bagaimana cara membuktikan kecerdasan yang ia miliki. Itulah kita. Siswa byungmeon yang pegecut. Siswa sekolah kumuh seperti yang dikatakan Jik, siswa cerdas dari Kirin. Seperti yang dikatakan orang banyak. Kita siswa yang tak tahu malu, seperti yang dikatakan ibuku. Tapi apakah dalam diri kalian tidak ada rasa ingin mengubah kata-kata negative yang mereka katakana untuk byungmeon? Apakah kita akan terus diam begini?”. Seluruh mata tak ada yang berkedip, guru-gurupun seluruhnya terdiam mendengar ucapan Rama yang sangat menusuk itu. Memang sangat menyakitkan, namun itulah kenyataannya. Brolut terlihat sangat panas dengan perkataan Rama. Ia merasa terhina, namun itulah kenyataannya. Siapa yang bisa memungkiri bahwa mereka, Byunmeon adalah benar-benar pengecut.                Tiba-tiba, “Baiklah. Aku akan coba kebenaran omonganmu, Ram!”, Kaito di ujung barisan berkata. Seluruh mata tertuju padanya. Ia membuat kaget semua orang. Akhirnya ada yang ingin berpartisipasi dalam ajang itu. Rama tersenyum dan menutup acara apel pagi itu dengan bel masuk. Di koridor depan ruang guru Rama memukul pundak Kaito, “Ka, terima kasih ya. Ini buku penunjangnya, semoga bermanfaat. Jangan lupa pulang sekolah ke ruang OSIS”, Kaito mengangguk dan mereka berpisah di depan ruang guru untuk menuju kelas masing-masing.                Jam terakhir. Ketika pelajaran Sejarah dimulai, Rama hanya sibuk membuka buku ilmu pengetahun umum yang ia beli hari sebelumnya. Ia asyik mengerjakan soal-soal dari buku tersebut. Sedangkan matanya tidak sekalipun melihat Guru Sejarah yang sedang mengajar. Teguran dari sang guru pun membuat kaget. “Rama, pilih keluar kelas dengan membawa buku tak berguna itu, atau tetap duduk di kelas belajar sejarah? Ingat minggu besok kita ada ulangan! Pilih!”, “Keluar kelas pak.” Rama menjawab. Rama pun dipersilahkan keluar dengan buku yang menurut guru sejarah itu tak berguna. Di luar kelas Rama melanjutkan mengisi soal-soal essay nya. Hingga waktu pulang pun tiba. Begitulah ia, saking berkeinginan memenangkan ajang itu.                Rama menuju ruang OSIS, dan di sana ada Kaito. “Baiklah Ka, sebenarnya lomba ini membutuhkan tiga orang peserta. Targetku ialah Brolut. Bagaimana menurutmu?” Tanya Rama. “Bisa saja, tapi apakah kau bisa mengubah jalan pikirannya. Ia adalah orang yang tegas. Jika sekali tidak, ya akan selamanya tidak. Tapi itu tergantung usahamu, Ram” jawab Kaito. Rama menyuruh Kaito pulang dengan membawa formulir pendaftarannya. Sementara ia akan tetap di ruang OSIS memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan seorang lagi, dan kalau bisa orang itu adalah Brolut.                Lewat telepon, E-mail, SMS, chatting, segalanya ia memohon kepada Brolut dan berdamai dengannya. Namun hasilnya nihil. Brolut tetap saja keras kepala. Rama tahu itu. Sedangkan hari penutupan pendaftaran ialah 4 hari lagi. Sangat singkat memang, untuk mencari satu orang saja sangan sulit di Byunmeon ini.                Selama kurun waktu yang tidak lama itu, Rama terus dan terus mencari siswa yang mau ikut. Tetap saja tak ada yang mau, dengan syarat apapun mereka tidak ada yang mau. Rama putus asa. Rama bingung mau berbuat apa lagi. Padahal Kaito sudah berhasil mau. Ia takut mengecewakannya, Kaito.                Tak terasa, tibalah hari terakhir pendaftaran UKC. 12 Juni yang tidak seharusnya berjalan cepat oleh Rama, datang juga. Rama menyerah dan mengatakan kepada Kaito, “Tidak ada lomba lagi, tarik formulirmu dan biarlah kamu belajar di dalam kelas seperti biasanya. Katakan kepada kepala sekolah bahwa kita mengundurkan diri. Dan tidak perlu repot-repot menjahitkan jas untuk dipakai di hari perlombaan. Itu hanya akan merepotkan beliau. Hanya beliau saja yang terlalu baik. Maafkan aku ya, Ka”. “Tunggu dulu, Ram. Ini belum berakhir. Sore nanti kita harus memasukkan nama di sana. Orang yang kau inginkan akan datang sesuai maumu. Untuk apa usahamu selama ini jika harus menyerah dengan gampangnya?” ujar Kaito bijaksana.                Akhirnya di sore hari 12 Juni itu Rama dan Kaito pergi menuju tempat pendaftaran untuk mengajukan pengunduran formulir. Mereka mengundurkan diri dari daftar peserta tim UKC Byungmeon High School. Tiba-tiba dari jarak jauh seseorang berteriak “Aku ikut!”. Dia datang. Brolut yang tak disangka-sangka datang untuk ikut bergabung. Bagaimanapun ini adalah sebuah keajaiban. “Aku tahu kalian mengharapkanku. Dan aku tahu kalian akan menyerah di tengah jalan. Aku sengaja agar kalian terlihat seperti pengecut sungguhan.” Walaupun dengan kata-kata itu, Rama dan Kaito sangat berterimakasih kepada Brolut karena mau bergabung dan menguruhkan niat mereka untuk undur diri dari ajang tersebut. UKC mereka datang!                14 Juni, Universal Knowledge Champion digelar. Satu tim terdiri dari tiga orang, Byunmeon dengan jas silvernya duduk rapi dan berwibawa di kursi group E. Ada enam tim yang akan bertanding, namun hanya satu tim yang akan lolos ke tingkat Propinsi nanti. Pertanyaan demi pertanyaanpun di utarakan oleh MC. Byungmeon sempat tertinggal jauh skornya dengan yang berada di posisi tiga, namun sekarang mereka berada diposisi dua dengan beda skor 600 dengan Kirin High School. Hingga di posisi kritis beda skornya ialah 50. Super, bukan? Sampailah pada pertanyaan terakhir, skor 100. “Di mana letak air terjun tertinggi di dunia?” teeeeeeeeeeeet Kiri menekan tombolnya dan menjawab “Tentu saja di Zimbabwe!”. “Jawaban salah, soal dilempar ke group lain”, teeeeeeeet, group E menekan tombol, “Venezuela”.                Dengan jawaban akhir Venezuela. Hasil yang mengagumkan berhasil diraih Byungmeon. Kirin berhasil terkalahkan oleh Byungmeon. Dan Byungmeon akan beradu di tingkat propinsi nanti. Ini adalah bukti akhir dari drama sekolah kumuh itu. Sekolah yang diremehkan, sekolah yang bahkan meremehkan dirinya sendiri. “Rama benar, tidak akan berubah sesuatu hal jika kita tidak bisa mengubah kata-katanya dahulu”.                Beberapa tahun setelah ajang UKC itu digelar, prestasi demi prestasi diraih oleh Byungmeon. 
Kini Byungmeon adalah benar-benar nyata. Tujuh tahun setelah Rama lulus dari Byungmeon High School, ia mengajak Brolut dan Kaito untuk berkunjung ke sekolah yang kini sudah tidak kumuh lagi. Rama berhasil membuktikan bahwa visi dan misinya itu berhasil terwujudkan. Tentunya dengan cara mengubah kata-kata tidak bisa menjadi bisa, sehingga hal itu benar-benar akan menjadi bisa.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar